Selasa , 18 Agustus 2026

Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan Simulasi Evakuasi Bencana di Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I

Bukittinggi – Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat melaksanakan kegiatan Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan Simulasi Evakuasi Bencana di Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I selama dua hari, Kamis–Jumat, 13–14 Agustus 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pelaksanaan Program Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB) Provinsi Sumatera Barat yang dilaksanakan secara bertahap pada delapan Cabang Dinas Pendidikan. Pelaksanaan SPAB diarahkan untuk memperkuat pemahaman, kapasitas, kesiapsiagaan, serta koordinasi lintas sektor dalam menghadapi risiko bencana di satuan pendidikan.

Hari pertama dilaksanakan di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I dan diikuti oleh 43 orang Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan/Kurikulum dari SMA, SMK, dan SLB, terutama satuan pendidikan yang berada di wilayah rawan bencana.

Kegiatan juga melibatkan perwakilan Kasi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kota Padang Panjang dan Kota Bukittinggi, sebagai bagian dari penguatan kolaborasi lintas sektor dalam penyelenggaraan SPAB.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Subbagian Tata Usaha Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I, Ibu Yefilindawati, S.Sos., M.M.

Selanjutnya, Kepala Subbagian Umum dan Kepegawaian Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Hardison, S.Pd., M.Pd., M.M., menyampaikan materi mengenai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) sebagai payung besar dalam membangun satuan pendidikan yang aman, termasuk dalam penyelenggaraan SPAB.

Dalam paparannya, Hardison mengajak peserta menggeser cara pandang tentang makna sekolah aman.

“Pertanyaan yang biasanya kita ajukan adalah: Apakah sekolah kita aman? Sekarang mestinya kita ubah menjadi: Apakah siswa kita merasa cukup aman untuk bercerita ketika mereka mengalami sesuatu?”

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan. Sebab, sekolah aman bukan berarti sekolah tanpa masalah, tetapi sekolah yang mampu mencegah masalah, peka terhadap tanda-tanda risiko, menyediakan ruang aman bagi siswa untuk berbicara, merespons laporan dengan benar, dan memastikan anak tetap terlindungi.

Materi BSAN juga menekankan bahwa keamanan sekolah tidak hanya menyangkut aspek fisik, tetapi mencakup keamanan spiritual, fisik, psikologis dan sosial-kultural, serta digital. Risiko bencana menjadi salah satu bagian penting dari perlindungan fisik yang harus diantisipasi oleh satuan pendidikan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diajak memahami bahwa SPAB bukan sekadar kegiatan simulasi atau acara seremonial.

SPAB merupakan sebuah sistem yang dimulai dari mengenali risiko, menyiapkan orang, menyiapkan prosedur, menyiapkan sarana, melakukan latihan, mengevaluasi, dan terus melakukan perbaikan. Simulasi merupakan bagian dari sistem kesiapsiagaan tersebut, bukan tujuan akhirnya.

Hal ini menjadi semakin penting karena Sumatera Barat merupakan wilayah yang memiliki berbagai potensi risiko bencana, antara lain gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, kebakaran, dan potensi bencana lainnya.

Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan Simulasi Evakuasi Bencana di SMAN 4 Bukittinggi.

Simulasi melibatkan seluruh warga sekolah, dengan pendampingan dari para peserta sosialisasi SPAB pada hari pertama. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi satuan pendidikan untuk mempraktikkan secara langsung prosedur evakuasi dan kesiapsiagaan ketika menghadapi kondisi darurat.

Melalui simulasi, warga sekolah tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi, tetapi juga belajar mengenai jalur evakuasi, prosedur penyelamatan diri, koordinasi, serta pentingnya ketenangan dan keteraturan dalam proses evakuasi.

Kegiatan dua hari tersebut difasilitasi oleh Patra Rina Dewi, S.Si., M.Sc. dan Tommy Susanto, S.T., M.T. dari KOGAMI (Komunitas Siaga Tsunami).

Kehadiran fasilitator memperkuat pembelajaran praktis bagi warga sekolah, sehingga simulasi tidak berhenti pada latihan, tetapi menjadi bahan evaluasi untuk melihat sejauh mana prosedur kesiapsiagaan telah dipahami dan dapat diterapkan.

Dari “Sekolah Aman” Menjadi “Anak Benar-Benar Aman”

Kegiatan Sosialisasi dan Simulasi SPAB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I menjadi langkah awal dari rangkaian kegiatan SPAB di Provinsi Sumatera Barat.

Data pemetaan SPAB menunjukkan bahwa dari 765 SMA/SMK/SLB yang dipetakan, sebanyak 390 satuan pendidikan telah memberikan respons, dan 236 satuan pendidikan sudah atau sedang membentuk Tim SPAB.

Angka tersebut menunjukkan adanya proses yang terus bergerak, sekaligus menjadi pengingat bahwa penguatan SPAB perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, tugas sekolah bukan sekadar terlihat aman, tetapi memastikan anak benarbenar aman—aman untuk belajar, aman untuk berbicara, aman untuk meminta bantuan, dan aman ketika menghadapi situasi bencana.

“Tugas kita bukan membuat sekolah terlihat aman. Tugas kita adalah membuat anak benar-benar aman.”

Anak Terlindungi • Pendidikan Berkualitas • Masa Depan Sumatera Barat Bermartabat

Tentang Afriando

Lihat Juga

Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa

untuk mengetahui Rencana Umum Pengadaan Barang dan Jasa Tahun 2025 masuk ke  

Tinggalkan Balasan